ISLAM DI INDONESIA
ISLAM DI INDONESIA
A.
Latar
Belakang
Muncul dan berkembangnya Islam di Indonesia yang telah menjadi
bukti sejarah bagi bangsa Indonesia sebagaimana peranan islam sangat besar
terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dengan melihat sejarah masuknya Islam di
Indonesia yaitu melalui berbagai macam cara dimana di antaranya adalah melalui
perdagangan, perkawinan yang dimotori oleh para saudagar-saudagar Arab,
pendidikan (pesantren), tasawuf, dakwah, kesenian dan budaya. Dengan kehadiran
mereka maka tertarik pula kalangan putra-putri pilihan bangsa Indonesia untuk mendalami
dan mempelajari Islam sampai mereka menjadi ulama besar dan aktif mendakwahkan
ajaran agama Islam kepada rakyat Indonesia sehingga dari perjuangan itulah
Islam sampai sekarang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Perjuangan Islam tersebut tidak hanya sampai sebatas itu akan
tetapi perjuangan melawan penjajah pun nyawa menjadi taruhannya sehingga pada
saat itu peranan Islam terhadap kemerdekaan mendapat andil yang sangat besar
bagi bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan, manifestasi nasionalisme lebih
nyata dalam melawan kolonialisme, namun nasionalisme tidak bergantung semata-mata
pada kolonialisme. Kenyataannya, kesadaran nasional tetap ada meskipun tidak
ada kolonialisme, atau setelah kolonialisme itu lenyap. Bahkan nasionalisme
bertambah subur tanpa adanya kolonialisme. Itulah yang kita sebut nasionalisme
bebas, artinya tanpa tekanan kolonialisme
Pada saat kemerdekaan tercapai pada tanggal 17 Agustus 1945 timbullah
konflik antara para kalangan yang ingin menentukan ideologi negara bangsa Indonesia.
Konflik pertama kali tersebut terbagi dalam dua kubu yaiu kalangan Muslim dan Nasionalis,
salah satunya ingin menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara Islam namun hal
tersebut mendapat tantangan dari kalangan lain yang ingin menjadikan Negara
Islam menjadi Negara Pancasila.
Akibat dari munculnya konflik tersebut perkembangan Islam dari segi
politik makin membesar disebabkan kekecewaan dari kalangan Islam yang ingin
menjadikan Negara Indonesia menjadi Negara khilafah Islam, dan kekecewaan itu
memuncak ketika dideklarasikan Negara Indonesia sebagai Negara pancasila.[1]
Hubungan antara Islam dengan negara mengalami pasang surut, pasca
kerjasama antara Islam dengan militer serta bantuan Amerika untuk melemahkan
PKI, Islam tidak dengan serta merta mendapat tempat dalam perpolitikan
Indonesia. Salah satunya karena kebijakan depolitisasi, misalnya dengan
menyatukan berbagai partai Islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
yang menempatkan parpol sebagai formalitas belaka dalam demokrasi Pancasila.
Praktis pada masa itu kendali perpolitikan berada di bawah partai Golkar militer dengan Soeharto sebagai panglima
utamanya.
Pasca reformasi, dengan tidak adanya kekuatan tunggal, Islam
semakin menguat perannya di ranah publik. Berbagai konflik agama peristiwa yang
terjadi pasca reformasi, misalnya, konflik agama serta peledakan bom di
berbagai daerah menimbulkan kesan bahwa Islam radikal tumbuh subur di
Indonesia. Terbukanya demokrasi di Indonesia ternyata mempunyai dua sisi,
munculnya civil society yang membawa nilai-nilai demokrasi sekaligus bad
civil society yang mengancam proses
demokrasi.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat muslim terbanyak di
dunia tidak terlepas dari agenda untuk memerangi terorisme tersebut. Pasca berbagai
aksi terorisme, wacana mengenai Islam lebih banyak berfokus pada pendekatan
pertahanan dan keamanan. Perkembangan Islam di Indonesia hanya direduksi dalam
bingkai tersebut.[2]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang mendasari terjadinya konflik beragama di Indonesia?
2.
Bagaimana
cara mengatasi konflik beragama di indonesia?
C.
Islam
di Indonesia
Untuk menjelaskan mengapa konflik bemuansa agama sering mengemuka.
Dalam kaitan inilah kehidupan agama perlu dipahami dalam konteks relasinya
dengan kehidupan riil manusia. Oleh lkarena itu adalah naif jika agama
diposisikan bebas dari segenap kenyataan hidup. Agama, dalam konteks inilah
perlu ditempatkan secara proporsional dalam konteksnya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa agama perlu dipahami dan ditafsirkan dalam konteks pluralitas
permasalahan yang dihadapi oleh para pemeluknya.
Namun demikian, cara pandang atau pendekatan yang begitu dominan kalau tidak
malah merupakan mainstream adalah bahwa berbagai bencana dan tragedi kemanusiaan
yang melibatkan agama. Pandangan demikian ini setidaknya menjelaskan bahwa
terdapat lima tanda awal terjadinya konflik agama, yaitu:
1.
Klaim
kebenaran.
Adanya klaim ini pada gilirannya mendegradasi pemahaman umat beragama
terhadap ke-Segala-Maha-an Tuhan. Biasanya hal ini disebabkan pemeluk agama
meyakini bahwa kitab suci mereka memang mengajarkan kebenaran monolidk
(tunggal). Penafsiran kitab suci, dengan demikian berperan penting dalam
mewarnai sikap umat beragama.
2.
Ketaatan
buta terhadap pemimpin agama.
Munculnya gerakan-gerakan ke agamaan radikal, seperti People Temple pimpinan Jim
Jones di Guyana, atau Aum Shinrikyo di bawah pimpinan David Koresh di Texas,
tak elak dari ketaatan buta ini. Darinya lahir keberagamaan yang membabi buta
dan fanadsme berlebihan.
3.
Upaya-upaya
membangun zaman ideal.
Dalam hal ini dijelaskan
bahwa jika visi agama tentang zaman
ideal itu diwujudkan dan para pemeluknya
meyakininya sebagai kehendak Tuhan sendiri, maka agama sebenarnya telah
terkorup, dan karenanya jahat. Di Afghanistan, dapat disaksikan bagaimana rezim
Taliban berbuat kekejarnan terhadap warganya sendiri dengan dalih ketaatan
terhadap syariat Islam.
4.
Tujuan
menghalalkan segala cara.
Tanda ini biasanya terjadi pada komponen-komponen agama, baik berkaitan
identitas maupun institusi agama. Ambisi menunjukkan identitas agama Kristen,
misalnya, telah mengakibatkan pembantaian orang Yahudi pada masa Nazi.
5.
Perang
Suci
Puncak dari keempat tanda di atas adalah merebaknya ide perang suci
(holy war atau jihad). Di sepanjang sejarah, ide inilah yang melandasi
terjadinya kekerasan dan konflik agama. Ini juga yang tampak pada peristiwa
terjadinya pengeboman gedung WTC di Amerika, bom Ball dan aksi-aksi terorisme lainnya,
juga berada dalam kerangka menegakkan perintah suci Tuhan yang dianggap
pelakunya sebagai jalan suci.
Sedangkan di sisi lain munculnya pula cara pandang bahwa konflik bernuansa
agama karena:
Pertama, konflik merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung.
Respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan
perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga,
atau nilai-nilai yang dapat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keadaan
yang ditolak.
Kedua, konflik tidak berhend pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya
mengganti tatanan lain. Ciri ini menunjukkan bahwa di dalam konflik terkandung
suatu program atau pandangan dunia (world view) tersendiri. Umat beragama
berupaya kuat untuk menjadikan tatanan tersebut sebagai ganti dari tatanan yang
sudah ada.
Ketiga,
pemeluk agama memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran program atau ideologi
yang mereka bawa. Dalam gerakan sosial, mereka rnemperjuangkan keyakinan yang
mereka anggap benar dengan sikap emosional yang menjurus pada kekerasan.[3]
Penjelasan tentang sumber dan faktor penyebab timbulnya konflik bernuansa
agama tersebut di atas sedikit banyak pembenarannya akan segera tampak ke
permukaan tatkala terjadi peristiwa konflik atas nama agama.
Berkembangnya konflik bernuansa agama di Indonesia, sebenarnya bukan
hanya satu kenyataan ironi
sosio-historis dalam negara majemuk.
Akan tetapi konflik atas nama agama juga
dapat menjadi ancaman bagi masa depan bangsa yang mendambakan keamanan dan
kedamaian.
Tindakan radikalisme yang dapat meninmbulkan konflik di atas dilakukan bertujuan sebagai
membela agama tetapi justru telah mengabaikan nilai-nilai agama sebagai pembawa
damai dan kemanusiaan. Orang-orang eksklusif
kurang begitu menyadari bahwa rnemperjuangkan
keadilan dan kebenaran dalam agama tidak dapat dibenarkan kalau menggunakan media kekerasan.
Semua orang menyambut baik ketika pengadilan Denpasar, Bali, menvonis
mereka hukuman seumur hidup dan hukuman
mati atas tindakan yang telah
melenyapkan ratusan nyawa. Akan tetapi apakah cara itu efektif. Sebagian orang masih meragukan efektivitas hukuman itu untuk mengatasi aksi kekerasan
atau terorisme bahkan konflik. Cara itu
dianggap masih menyisakan sejumlah persoalan karena penyelesaian hukum tidak
mcnyentuh masalah terorisme, kekerasan
atau konflik yang benuansa agama secara komprehensif. Hukuman hanyalah sebuah
shock therapy. Oleh karena itu, terorisme, kekerasan atau konflik atas nama
agama sesungguhnya terkait dengan beberapa masalah mendasar, antara lain, pertama,
adanya wawasan keagamaan. Kedua, penyalah gunaan simbol agama. Ketiga,
lingkungan yang tidak kondusif yang terkait
dengan kemakmuran dan keadilan. Keempat, faktor eksternal yaitu adanya perlakuan
tidak adil yang dilakukan satu kelompok atau negara terhadap sebuah komunitas. Akibatnya, komunitas yang merasa
diperlakukan tidak adil bereaksi. Oleh karena itu, terorisme, kekerasan atau
konflik atasnama agama hanya dapat dicegah secara fundamental kalau keempat
pokok masalah tersebut disentuh.
Untuk menelusuri dan mencari solusi terhadap konflik yag bernuansa agama
di Indonesia dewasa ini, beberapa cara meletakkan betapa strategis dan
pentingnya pengelolaan kemajemukan umat beragama
ini diletakkan dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia yang plural.
Agama secara teologis mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak
panganumya. Perbedaan pemahaman penganut agama terhadap aspek teologis dan
ritual agama yang dianutnya sangat berpengaruh terhadap cara mengimplementasikan
ajaran tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Perbedaan baik internal maupun antar umat
beragama seringkali disebabkan oleh tingkat pemahaman yang sempit yangt mengarah
pada fanatisme agama, dan formalisme agama.
Tingkat pendidikan yang rendah mempengaruhi
tingkat pemahaman agama masyarakat. Pemahaman agama masyarakat Indonesia masih
relatif rendah dan sempit dan seringkali mengarah ke fanatisme agama. Fanatdsme
agama merupakan faktor yang membuat penganut agama rentan terhadap adanya
perbedaan pendapat, pandangan, dan cara beragama.
Lebih jauh lagi dikatakan bahwa fanatisme agama memandang segala aspek
kehidupan, termasuk aspek ekonomi, sosial, dan politik harus diatur sepenuhnya
oleh agama secara tekstual. Fanatisme agama melahirkan sikap penolakan terhadap
keberagamaan lain dan penolakan berinteraksi dengan pemeluk agama lain.
Radikalisme keagamaan seringkali menjadi wujud dari sikap fanatisme agama. Berbagai
peristiwa konflik dan kekerasan yang
dikaitkan dengan agama yang sering terjadi beberapa tahun terakhir di Indonesia
lahir dari sikap fanatisme sekelompok orang terhadap ajaran dogmatis agama yang
sangat sempit.
Faktor internal lainnya yang seringkali menjadi penyebab lahirnya konflik umat beragama adalah
munculnya aliran sempalan sebagai reaksi dari kelompok agama tertentu terhadap
agama yang dianutnya yang dipandang sebagai interpretasi yang paling benar
terhadap agamanya. Gerakan yang bersifat ke dalam ini seringkali melahirkan berbagai aliran
teologi dalam agama tertentu.
Arus globalisasi yang melanda semua negara dalam berbagai bidang telah mengakibatkan terjadinya perubahan sangat cepat pada kehidupan manusia. Globalisasi yang lahir sebagai proses dari peradaban manusia yang diharapkan semakin membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik dcngan menjunjung tinggi nilai-nilai RAM dan demoktrasi, justru telah mcnciptakan berbagai masalah bagi bangsa dan kelompok masyarakat tertentu.
Ketimpangan ekonomi dan keddakadilan sosial politik antar kelompok masyarakat beragama juga seringkali menjadi faktor yang mempengaruhi pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Kedmpangan ekonomi dan ketidakadilan politik baik yang terjadi secara horizontal maupun vertikal antara kelompok masyarakat beragama menjadi penyebab dab faktor penting yang mempengaruhi dinamika pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia.
Arus globalisasi yang melanda semua negara dalam berbagai bidang telah mengakibatkan terjadinya perubahan sangat cepat pada kehidupan manusia. Globalisasi yang lahir sebagai proses dari peradaban manusia yang diharapkan semakin membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik dcngan menjunjung tinggi nilai-nilai RAM dan demoktrasi, justru telah mcnciptakan berbagai masalah bagi bangsa dan kelompok masyarakat tertentu.
Ketimpangan ekonomi dan keddakadilan sosial politik antar kelompok masyarakat beragama juga seringkali menjadi faktor yang mempengaruhi pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Kedmpangan ekonomi dan ketidakadilan politik baik yang terjadi secara horizontal maupun vertikal antara kelompok masyarakat beragama menjadi penyebab dab faktor penting yang mempengaruhi dinamika pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia.
Selain itu, perlakuan diskriminatif kepada individu dan kelompok
agama tertentu baik disengaja maupun ddak disengaja utnuk memperoleh akses kepada
sumbefr daya alam, fasilitas sosial, dan fasilitas umum juga dipertimbangkan
dapat mempengauhi pemikiran dan gerakan Islam. Faktor eksogen lainnya yang juga
dapat mempengaruhi kehidupan umat beragama adalah merasa terganngu atau
terelimjinasi oleh kelompok agama lain.
Faktor lain yang ddak kalah pentingnya yang mempengaruhi pemikiran dan
gerakan beragama, seringkali terkait dengan terganggunya relasi dalam masalah keagamaan baik intern umat maupun
antarumat beragama, maupun antara umat beragama dengan pemerintah, seperti
pendirian rumah ibadah penyiaran agama,
bantuan pihak asing, perkawinan beda agama, penodaan agama, dan lain-lain.
D.
Kesimpulan
Dapat dikemukakan bahwa untuk memahami fenomena konflik bernuansa
agama di Indonesia bukan suatu gejala yang sederhana dan mikro atau atau
fenomena yang berdiri terpisah dari pergulatan ideologis, teologis dan persoalan tantangan globalisasi.
Dalam kaitan ini interpretasi
doktrin-doktrin kitab suci dapat menyediakan legirimasi dan berfungsi sebagai
sumber daya pembingkaian (framing resource) bagi aktivisme konflik atas nama
agama yang sebenamya pekatdengan nuansa power struggle.
Oleh karena itu solusi atas konflik agama menuntut kajian secara
menyeluruh dan lintas disiplin. Dengan hanya mempresentasikannya sebagai unit
sosial homogen yang diidentifikasi berdasarkan cakrawala ideologis semata jelas
hanya akan mengaburkan masalah.
Sebagian orang masih meragukan efektivitas hukuman itu untuk mengatasi aksi kekerasan
atau terorisme bahkan konflik. Cara itu
dianggap masih menyisakan sejumlah persoalan karena penyelesaian hukum tidak
mcnyentuh masalah terorisme, kekerasan
atau konflik yang benuansa agama secara komprehensif. Hukuman hanyalah sebuah
shock therapy. Oleh karena itu, terorisme, kekerasan atau konflik atas nama
agama sesungguhnya terkait dengan beberapa masalah mendasar, antara lain, pertama,
adanya wawasan keagamaan. Kedua, penyalah gunaan simbol agama. Ketiga,
lingkungan yang tidak kondusif yang terkait
dengan kemakmuran dan keadilan. Keempat, faktor eksternal yaitu adanya perlakuan
tidak adil yang dilakukan satu kelompok atau negara terhadap sebuah komunitas. Akibatnya, komunitas yang merasa
diperlakukan tidak adil bereaksi. Oleh karena itu, terorisme, kekerasan atau
konflik atasnama agama hanya dapat dicegah secara fundamental kalau keempat
pokok masalah tersebut disentuh.
Sebagai solusi untuk peningkatan harmonisasi kehidupan umta beragama
di Indonesia dipergunakan pendekatan konsepsi berlapis, yaitu pembangunan social
capital (sebagai lapis pertama), pengembangan kebangsaan berwawasan multikultural
bagi semua umat beragama (sebagai lapis kedua), dan pembangunan sosial, ekonomi dan politik ( sebagai lapis
ketiga).
Lampiran
Lampiran
|
No.
|
Akar Konflik
|
Cara Mengatasi
|
|
1.
|
Klaim kebenaran
Adanya klaim ini pada gilirannya
mendegradasi pemahaman umat beragama terhadap ke-Segala-Maha-an Tuhan.
Biasanya hal ini disebabkan pemeluk agama meyakini bahwa kitab suci mereka
memang mengajarkan kebenaran monolidk (tunggal). Penafsiran kitab suci,
dengan demikian berperan penting dalam mewarnai sikap umat beragama.
|
Perbedaan baik internal maupun antar umat beragama
seringkali disebabkan oleh tingkat pemahaman yang sempit yangt mengarah pada
fanatisme agama, dan formalisme agama. Maka perlunya berfikiran luas dan
terbuka.
|
|
2.
|
Ketaatan buta terhadap pemimpin agama
Munculnya gerakan-gerakan ke agamaan radikal
|
Menanamkan sikap
toleransi dan moderat dalam beragama.
|
|
3.
|
Upaya-upaya
membangun zaman ideal.
Dalam hal ini dijelaskan
bahwa jika visi agama tentang zaman
ideal itu diwujudkan dan para
pemeluknya meyakininya sebagai kehendak Tuhan sendiri,
|
Menanamkan sikap
mementingkan maslahah umat dari pada permasalahn pribadi.
|
Daftar Pustaka
Ø Hayat,Bahrul.2012.Mengelola Kemajemukan Umat Beragama.jakarta:PT.Saadah
Mandiri).
Ø Posh,Beti Yanuri. 2015.Perkembangan Islam di Indonesia Pasca
Kemerdekaan.Jurnal Historia:Sambas.
Ø Sutopo,Oki Rahadianto.2008. Beragama Islam, Beragama
Ekpresi:Islam Indonesia dalam Praktik Jakarta:jurnal Sosiologi FISIP UI.
[1] Beti
Yanuri Posha,Perkembangan Islam di Indonesia Pasca Kemerdekaan,(Jurnal
Historia:Sambas), 2015. Hal. 75.
[2] Oki
Rahadianto Sutopo, Beragama Islam, Beragama Ekpresi:Islam Indonesia dalam
Praktik (Jakarta:jurnal Sosiologi FISIP UI), 2008. Hal. 86 – 87.
[3] Bahrul
Hayat,Mengelola Kemajemukan Umat Beragama, (jakarta:PT.Saadah Mandiri),
2012.
Komentar
Posting Komentar